
Inovasi tidak hanya muncul dari laboratorium; inovasi tumbuh di desa-desa tempat teknologi bertemu dengan pengetahuan lokal. Kelompok petani Makmur Tani di Kedongpomahan Wetan, Kemiri, (Purworejo, Jawa Tengah) telah membudidayakan sacha inchi sebagai tanaman penghasil minyak bernilai tinggi dengan prospek kuat untuk diversifikasi pendapatan. Namun, kendala utamanya adalah proses ekstraksi minyak, yang sebelumnya bergantung pada alat yang terbatas dan hasil yang tidak konsisten.
Melalui program keterlibatan masyarakat oleh FTI ITB, Dr. Anita K Wardani, Prof. Tirto Prakoso, dan Dr. Meiti Pratiwi, bekerja sama dengan Yayasan Nyala, para petani menerima pelatihan teknis dan akses ke unit ekstraksi yang dirancang khusus untuk kemudahan pengoperasian, efisiensi energi, dan kinerja yang stabil. Dengan sistem ini, petani kini dapat menghasilkan sekitar 250–300 mL minyak per kilogram biji sacha inchi, memungkinkan mereka untuk beralih dari penjualan biji mentah ke rantai produk bernilai lebih tinggi.
Minyak sacha inchi kaya akan asam lemak omega-3, omega-6, dan omega-9, sehingga menarik untuk makanan fungsional, nutrisi, dan formulasi kosmetik. Dengan teknologi dan peningkatan kapasitas yang tepat, tanaman ini menawarkan peluang ekonomi dan jalan menuju pembangunan pedesaan yang didorong oleh inovasi. Sodikin, Kepala kelompok Makmur Tani, menangkap sentimen masyarakat dengan jelas: “Dulu kami hanya menjual biji kering. Sekarang kami melihat kemungkinan baru karena kami dapat menghasilkan minyak dengan nilai yang jauh lebih tinggi dan manfaat kesehatan yang jelas.”
Upaya seperti ini menunjukkan bagaimana penelitian terapan, transfer teknologi, dan kolaborasi petani dapat memperkuat ketahanan pertanian Indonesia dan menciptakan rantai nilai yang berkelanjutan dan digerakkan oleh lokal.



